Intermezzo : Perbedaan Konfigurasi senjata dan taktik air gunnery Pesawat tempur era WW2

Pada era perang dunia kedua, secara umum pesawat tempur dapat dibagi dua sesuai dengan konfigurasi senjatanya, yang begitu pula mempengaruhi taktik air gunnery yang digunakan. Yang pertama adalah konfigurasi persenjataan dalam jumlah sedikit, biasanya persenjataan selalu dipasang pada bagian fuselage pesawat bagian depan, tepat diatas dudukan mesin atau bahkan melalui mesin, konfigurasi ini umum ditemui di pesawat tempur dari negara Axis seperti Jerman, Italia dan jepang. Untuk sekutu, uni soviet dan yugoslavia yang menggunakan konfigurasi ini. Yang kedua adalah persenjataan dalam jumlah banyak, yang biasanya diletakkan di bagian sayap pesawat. Konfigurasi semacam ini umum dijumpai pada pesawat tempur sekutu seperti Amerika dan Inggris, pengecualian beberapa pesawat Axis dari Jerman, Italia Dan Jepang.

Yang pertama adalah konfigurasi persenjataan dalam jumlah sedikit, kelebihan dari konfigurasi ini adalah persenjataan yang dibawa bisa sedikit (namun lethal seperti kanon) yang memangkas bobot pesawat. Yang kedua adalah karena posisi senjata searah dengan fuselage, maka tidak perlu dilakukan proses konfigurasi laras untuk menentukan titik temu (convergence) antar senjata seperti pada konfigurasi sayap. Akan tetapi, kelemahan dari konfigurasi ini adalah terbatasnya jumlah peluru yang bisa dibawa dan membutuhkan kemampuan pilot untuk melakukan marksmanship dalam air gunnery untuk bisa menghantam sasarannya dengan tepat. Pilot membutuhkan skill marksmanship dalam air gunnery yang tinggi, sesuai taktik dan konfigurasi yang digunakan dimana kemampuan menembak tepat dibutuhkan. Contoh pesawat dengan konfigurasi ini adalah Messerschmitt Bf-109F dan seterusnya, Lavochkin-Gorbunov-Gudkov LaGG-3, Yakovlev Yak-9 dan Nakajima Ki-43 Hayabusa.

20140417-033917.jpg

LaGG-3, contoh Fighter yang mengadopsi konfigurasi Senjata di bagian tengah pesawat (1x20mm ShVAK, 2×12.7mm Berezin UB)

Yang kedua adalah konfigurasi dimana persenjataan dipasang dalam jumlah banyak yang umumnya dipasang di sayap pesawat. Umumnya persenjataan yang dipakai adalah senapan mesin dari kaliber 7mm sampai 13mm hingga kanon 20mm pada pesawat yang memiliki mesin bertenaga besar. Keuntungan dari konfigurasi ini yang pertama adalah pilot tidak perlu terlalu repot menggunakan skill marksmanship dalam air gunnery, dimana semburan peluru dalam jumlah besar dari pesawat diharapkan dapat menghantam pesawat lawan diantaranya. Yang kedua adalah jumlah peluru yang dibawa bisa dalam jumlah banyak menyesuaikan jumlah dan kaliber senapan mesin yang digunakan. Akan tetapi kelemahannya adalah dibutuhkannya suatu proses kalibrasi untuk menentukan titik temu semburan peluru (convergence point) supaya semburan peluru dapat terkumpul di suatu tempat puluhan meter di depan pesawat untuk meningkatkan kans peluru dapat menghantam target, yang kedua adalah pilot membutuhkan keahlian menentukan jarak antara pesawatnya dan sasarannya untuk menentukan jarak keduanya sesuai titik convergence senjata. Walau begitu konfigurasi semacam ini disukai karena lebih “friendly” bagi pilot pilot pemula. Contoh pesawat dengan konfigurasi ini adalah P-40 Warhawk, P-47 Thunderbolt, P-51 Mustang, F4F Wildcat, Supermarine Spitfire, Hawker Hurricane, Mitsubishi J2M Raiden.

20140417-040112.jpg
Supermarine Spitfire, contoh pesawat dengan konfigurasi persenjataan di sayap dalam jumlah banyak. Dari 8 senapan mesin 7.7mm sampai 4 kanon 20mm

Sebenarnya ada satu jenis lagi, yaitu pesawat dengan konfigurasi campuran. Dimana senjata dipasang baik di fuselage maupun di sayap. Cara melakukan air gunnery nya pun bercampur menjadi satu, dimana senjata di sayap disesuaikan titik temunya dengan senjata di fuselage. Pilot pun tidak perlu repot mencari jarak yang pas dengan target karena bisa diatasi dengan senjata di fuselage. Contoh pesawat dengan konfigurasi ini adalah Macchi MC.205, Mitsubishi A6M Zero, Messerschmitt Bf-109E, Bell P-39 Airacobra, Bell P-63 Kingcobra.

20140417-040842.jpg
Macchi MC.205 Orione, pesawat dengan konfigurasi gabungan. (2×12.7mm Breda SAFAT di fuselage, 2x20mm MG151/20 di sayap)

(Sumber : wikipedia, aviastar)

Fikri Muhammad Ghazi

Semarang, 17 April 2014

@commisarfoxtrot

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s