Yokosuka R2Y Keiyun, Superfast Recce Bomber dari Jepang

R2Y1 Keiun
R2Y1 Keiun

Yokosuka R2Y Keiyun adalah jawaban dari kebutuhan jepang akan pesawat pengintai berkecepatan tinggi dan berjarak jauh yang sejak 1942 kebutuhannya dirasa dalam masa-masa kejayaan ekspansi di wilayah Pasifik. Pada tahun 1942, IJN mengeluarkan Issue Tender Shi-17 akan pesawat pengintai berbasis di darat, berkecepatan tinggi supaya aman dari sergapan fighter lawan, dan berjangkauan jauh. maka Yokosuka Naval Air Technical Arsenal (Dai-Ichi Kaigun Koku Gijitsusho atau disingkat Kugisho) menjawab akan tender dari IJN dari issue Shi-17 yang menginginkan pesawat recce berkecepatan 667 km/h, di ketinggian 6000 meter. maka Kugisho membuat Y-30 / R1Y1, desain konvensional mesin ganda dengan layout seperti Yokosuka P1Y Ginga, ditenagai dengan mesin 24 Silinder berkekuatan 2500hp, akan tetapi pengembangan yang lambat membuat Kugisho harus mengganti dari mesin V-24 dengan dua unit mesin Radial Mitsubishi MK10A, yang membuat performa R1Y1 tidak mampu memenuhi persyaratan dari Issue Shi-17. maka akhirnya proyek R1Y1 dibekukan dan program dibubarkan.

untunglah pada saat yang sama, Kugisho membuat prototype baru, bernama Y-40, berbasis dari pesawat jerman Heinkel He-119 yang diimport jepang pada tahun 1940, setelah negosiasi dengan Jerman dari tahun 1938, 2 Unit He-119 dikirim ke jepang berikut lisensi untuk memproduksi He-119 di jepang sendiri, akan tetapi IJA maupun IJN tak lagi tertarik dengan He-119. Heinkel He-119 sendiri adalah pesawat pengintai tak bersenjata berkecepatan tinggi yang mengandalkan kecepatan untuk lolos dari sergapan Fighter Musuh. He-119 sendiri menggunakan Mesin DB-601 yang dimodifikasi, yaitu menyatukan 2 unit DB-601 bersampingan sehingga seluruh engine block akan terpusat dan memutar satu crankshaft, dinamai DB-606. maka IJN kembali mengumumkan issue Shi-18, dengan spesifikasi yang sama dengan Shi-17. Y-40 sendiri kemudian dinamai R2Y1 Keiun, didesain dengan layout sama dengan He-119 dalam penempatan mesin, 1 Mesin V-24 yang dipasang di fuselage di bagian belakang cockpit, menggerakkan extension crankshaft tersambung ke baling-baling di bagian depan fuselage. sistem pendingin pun Keiun menggunakan Radiator Bath dan Air Intake, dan memiliki Tricycle landing gear. sedangkan Mesin mengandalkan Aichi Ha-70, yaitu dua unit mesin Aichi Atsuta (lisensi IJN atas Daimler-Benz DB-601) yang disatukan, dengan layout yang sama dengan DB-606, 2 unit Atsuta / DB-601 disatukan, dan blok silinder digabungkan pada satu crankshaft, mampu mengeluarkan tenaga hingga 3400 hp.

Daimler-Benz DB-610, Layout yang sama digunakan pada mesin Achi Ha-70 di R2Y1 Keiun
Daimler-Benz DB-610, Layout yang sama digunakan pada mesin Achi Ha-70 di R2Y1 Keiun

suasana peperangan yang semakin suram di jepang membuat pada tahun 1944, setelah jatuhnya kepulauan Mariana, Jepang tidak lagi membutuhkan pesawat pengintai jarak jauh. akan tetapi tepat sebelum program Y-40 / R2Y1 dibubarkan, Kugisho melobi IJN dan meyakinkan bahwa varian baru bisa dikembangkan dari airframe yang ada sekarang, seperti Fast Attack Bomber. Kugisho mengajukan Proposal R2Y2 Keiun-Kai, dimana Mesin Aichi Ha-70 kan digantikan dengan 2 mesin Turbojet Ishikawajima Ne-330 yang dipasang dalam engine naceles seperti pada Me-262. dengan Penggantian mesin ke Turbojet, R2Y2 diharapkan akan mampu mencapai kecepatan 850 km/h, sambil menggotong 1 bom seberat 1800 kg dan 1 kanon 20mm/30mm di hidung.

maka IJN mengizinkan proyek R2Y dilanjutkan kembali, dengan fokus ke pengembangan R2Y2 bertenaga Turbojet dan mengizinkan tetap melanjutkan R2Y1 sebagai testbed dan demonstrator untuk refrensi data pengembangan R2Y2. akhirnya pada April 1945, prototype pertama R2Y1 selesai, dan dipindahkan ke Kisazaru di Prefektur Chiba untuk test flight. test pilot dipercayakan kepada Lt.Cmdr Kitajima, Test Pilot Kawakan dari Yokosuka. pada 8 Mei 1945, Kitajima melakukan test flight pertama atas R2Y1 Keiun, kitajima melaporkan bahwa kontrol roda depan saat taxiing sangat buruk, lalu mengeluhkan mesin Aichi Ha-70 yang cepat overheat, disebabkan oleh desain radiator cooling intake yang buruk dan cooling system yang belum sempurna. saat baru saja beberapa lama Airborne, Kitajima melihat bahwa temperatur oli terus naik, sehingga harus membatalkan penerbangan. maka Kitajima kembali mendaratkan R2Y1 sebelum terjadi kerusakan pada mesin.

di darat, teknisi terus mencoba mencari solusi atas masalah mesin yang cepat overheat. saat mencoba ground testing atas Aichi Ha-70, mesin itu terbakar hebat saat ground test, menghancurkan seluruh bagian mesin itu, dan bahkan sebelum R2Y1 dikembalikan ke Bengkel Kugisho untuk menerima mesin baru, R2Y1 keburu hancur dalam suatu operasi bombing raid dari USAAF. sedangkan prototype kedua R2Y1 tidak pernah selesai hingga perang selesai, dan R2Y2 Keiun-Kai yang bertenaga Jet hanya tinggal sebatas Rancangan di Drawing Board

R2Y2 Keiun-Kai, dengan 2 mesin Turbojet Ishikawajima Ne-330
R2Y2 Keiun-Kai, dengan 2 mesin Turbojet Ishikawajima Ne-330

sumber : Japanese Secret Projects – Experimental Aircraft 1939-1945

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s