Kawanishi Baika, Rudal V-1 versi Jepang

Kawanishi Baika
Kawanishi Baika

Pada fase akhir perang pasifik, Invasi atas tanah air jepang adalah ancaman yang nyata dan pasti oleh para pemikir strategi perang jepang. sekutu sendiri menyiapkan Operation Downfall, Invasi pendaratan ke tanah air jepang yang terdiri dari 2 fase operasi, Operation Olympic dengan sasaran menduduki Kyushu dan Operation Corona dengan sasaran menginvasi Tokyo. maka para pemikir jepang menyusun strategi dinamai “Operation Ketsugo” yaitu operasi menyerang armada invasi ketika mendarat di pantai jepang, dimana kekuatan akan bertumpu pada “Special Attack Unit” dengan tujuan memukul mundur Armada Invasi sekutu atas tanah jepang. maka Kawanisi Baika lahir atas Ide menahan invasi sekutu ini.

pada 2 Juli 1944, IJN mengeluarkan issue kepada Kawanishi utuk merancang “Special Attack Aircraft” komplemen dari Yokosuka MXY-7 Ohka dan Nakajima J9Y Kikka / Kitsuka Varian Jet Attack Bomber. Rancangan baru ini dinamai “Baika” (Plum Blossom), harus bisa dirancang dan dirakit oleh tenaga kerja minim pengalaman dan keterampilan, dan menggunakan material-material yang tidak terlalu penting dalam industri seperti kayu dan terakhir mampu diproduksi di bengkel-bengkel rumahan. diakibatkan oleh pemboman tanpa henti atas pusat industri jepang dan operasi penenggelaman shipping jepang menyebabkan permintaan2 diatas dikeluarkan atas rancangan Baika. Profesor Ichiro Tani dan Taichiro Ogawa dari Tokyo Imperial University ikut dalam rancang bangun desain untuk membantu memenuhi permintaan2 diatas.

Mesin yang akan mentenagai Baika adalah Maru Ka-10, versi jepang dari Argus As 109-014 Pulsejet, yang rancang bangunnya dikirim dari jerman ke jepang via kapal selam pada tahun 1944. Pulsejet sendiri adalah bentuk mesin jet yang cara kerjanya sederhana, yaitu mencampur udara yang masuk lewat intake yang bisa membuka dan menutup ke dalam combustion chamber, saat udara dan bahan bakar yang tercampur dipicu di dalam chamber, katup intake akan menutup, dimana gaya dari proses pembakaran bahan bakar dan udara hanya bisa keluar lewat bagian belakang mesin, dan menghasilkan thrust, dan proses itu terjadi berulang kali. Argus As 109-014 sendiri mampu melakukan 45 kali combustion cycle per menitnya.

ada empat keuntungan menggunakan mesin Pulsejet. yang pertama adalah, karena mekanismenya yang sederhana, mesin ini mudah dibuat. kedua, bisa menggunakan bahan bakar kualitas rendah. ketiga, proses pemeliharaannya sederhana, tidak seruwet mesin piston atau turbojet, dan yang keempat, memiliki ongkos produksi jauh lebih murah dibandingkan mesin Piston dan Turbojet. akan tetapi Pulsejet sendiri memiliki kelemahan fatal, yaitu efisiensi bahan bakarnya yang buruk dan suaranya yang sangat berisik, tak heran V-1 mendapat julukan Buzz Bomb saking berisiknya mesin Argus As 109-014.

pilihan menggunakan Pulsejet adalah hal yang pasti, karena pada fase akhir perang, jepang kesulitan dalam supply bahan bakar untuk pesawat, maka Pulsejet menawarkan bisa menenggak bahan bakar kualitas rendah, agar bahan bakar aviation-grade bisa diamankan untuk kepentingan operasional pesawat terbang. dan kedua, Pulsejet bisa dibangun dalam jumlah besar oleh tenaga kerja tak terampil di bengkel-bengkel rumahan di seantero jepang. akan tetapi, Maru Ka-10 Pulsejet sendiri dikeluhkan memiliki waktu operasional yang singkat, karena ada masalah dalam sistem fuel valve nya. dan suaranya yang berisik bisa memberikan early warning atas armada sekutu yang bisa menyiapkan serangan balasan, dan getaran berlebihan yang dihasilkan mesin dikhawatirkan akan merusak struktur Baika. akan tetapi keuntungan yang didapat bisa tertutupi oleh kelemahan2 yang disebutkan tadi.

pada tanggal 5 Agustus 1945, diadakan meeting di Institut Penerbangan Universitas Tokyo, dihadiri oleh Admiral Wata dan Takahira dari IJN, Professor Naganishi, Ogawa dan Kihara dari Universitas Tokyo, dan CEO Kawanishi, Katahiro. dalam meeting tanggal 5 Agustus 1945 itu, diputuskan bahwa Kawanishi baika akan ditetapkan sebagai pengganti Yokosuka MXY-7 Ohka, yang lebih ribet dalam produksi massal, terutama dalam masalah Mesinnya, Turbojet Ishikawajima Ne-20 yang akan difokuskan untuk membangun Jet Attack Bomber dan Interceptor. di dalam meeting itu pula, setelah diadakan revisi desain, diputuskan bahwa Baika akan diproduksi dalam 2 Versi. Versi Rail-Launched untuk pertahanan dari Invasi, dan versi yang dilengkapi Landing Gear, sebagai sarana latihan para pilot sebelum beralih ke versi operasional. dalam penutupan meeting, Kawanishi diberi order pembuatan 1 prototype Baika dan 10 versi Trainer, dengan Deadline September 1945, berikut plan produksi massal harus sudah selesai sebelum Oktober 1945.

dan esoknya tanggal 6 Agustus 1945, diadakan rapat direksi di Kawanishi Kokuki KK, dimana perwakilan IJN, Admiral Masayama Takeuchi meminta agar Baika menggunakan sesedikit mungkin material yang penting dalam industri perang, seperti alumunium. artinya baika akan dikonstruksi sebagian besar dari kayu. dan akhirnya pada 8 Agustus 1945, tim pengembangan Kawanishi sejumlah 60 orang dipimpin oleh Insinyur Tamenobu, memulai riset pengembangan Kawanishi Baika. akan tetapi pada tanggal 15 Agustus 1945, jepang menyatakan menyerah, dan seluruh proyek termasuk Baika dibubarkan.

sebagai catatan, beberapa sumber menyatakan bahwa Kawanishi Baika adalah kopian jepang dari Versi berawak rudal V-1 Jerman, Fieseler Fi-103R Reichenberg. ada dokumen laporan intelejen sekutu menyatakan bahwa pada Oktober 1943 jepang mengetahui program rudal V-1 Jerman, termasuk versi berawaknya, dan satu unit V-1 dibeli pada November 1944. laporan yang sama menyebutkan bahwa jepang juga tertarik akan pengembangan dan teknik air-launched system untuk rudal V-1. laporan lain dari intelejen USAAF pada tahun 1946 menyatakan, bahwa Kawanishi Baika adalah kopian dari Fieseler Fi-103R Reichenberg. akhirnya, sebuah dokumen manifest cargo dari kapal selam jepang I-29 (yang beberapa kali mengantarkan kargo rahasia dari jerman ke jepang) selain Me-163 dan Me-262, satu unit Fi-103R juga termasuk dalam kargo I-29. ilustrasi desain Kawanishi baika sekarang ini sendiri adalah hasil reka cipta dari Desainer pesawat Jepang Eichi Iwaya pada buku Koku Gijutsu no Zenbo terbitan 1953. fakta apakah Kawanishi Baika adalah versi jepang dari Fieseler Fi-103R Reichenberg atau bukan masih simpang siur hingga saat ini.

sumber : Japanese Secret Projects – Experimental Aircraft 1939-1945

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s